2019 Momentum Kepemimpinan Yang Kuat

Oleh: Nasruloh Baksolahar

Pergantian kepemimpinan sebuah momentum yang sangat penting. Bila diam dan tak perduli, bisa kehilangan kebaikan yang sangat besar. Hasan Al Bashri pernah berkata, “Andai aku memiliki satu doa yang terkabul, akan ku minta pemimpin yang adil.” Bukankah pemimpin yang adil menjadi prioritas utama mendapatkan perlindungan Allah?

Dalam setiap masa kebangkitan dan kejayaan. Pasti ada pemimpin yang kuat dan adil. Tak peduli ideologinya. Tak peduli agamanya. Yang pasti pemimpin kunci utama perbaikan dan kebaikan negri.

Dalam setiap kebangkrutan negara, kemunduran dan kehancuran negri, pasti dipimpin oleh orang yang lemah. Orang yang tunduk bukan pada visinya, tetapi yang disetir oleh pihak lain.

Kehancuran Mataram di era Amangkurat I dan Amangkurat II disebabkan kepemimpinannya disetir oleh bisninya Belanda yang bernama VOC. Begitupun di era Sultan Haji di Banten. Ketika kekuatan asing mencengkeram pemimpinnya, maka pemimpin hanyalah boneka dan kaki tangan saja.

Karakter pemimpin yang lemah adalah takut kehilangan kekuasaan. Tak peduli dengan siapa dan harus melakukan apa untuk melanggengkan kekuasaan. Amangkurat I membunuh 6.000-7.000 ulama. Meminta bantuan tentara Kompeni Belanda. Setelah melanggengkan kekuasaan, sumber daya negri terjual dan harus membayar upeti kepada penyandang dana.

Pemimpin yang lemah menimbulkan konflik internal yang kuat. Tanda bisa menyelesaikan konflik dan polemik internal. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Seperti kehancuran Majapahit karena perang Paregreg. Sengaja membenturkan rakyatnya demi kelanggengan kekuasaannya.

Pemimpin yang lemah selalu terbius oleh hawa nafsunya. Seperti Jayanegara di masa Majapahit. Berfoya-foya dan bersenang-senang. Sumberdaya negara untuk membiayai kepentingan pribadi para penguasanya saja. Mementing kepopuleran dirinya dan citra dirinya. Tak peduli bagaimana menyelesaikan problematika rakyatnya.

Pemimpin yang kuat selalu meracik pemikiran baru untuk menyatukan rakyatnya. Meracik mindset tentang negri dan bangsanya. Lalu menjadi dasar berfikir dan bernegara. Seperti Sultan Agung yang mencoba memadukan budaya Islam dengan budaya yang sudah ada di tengah masyarakat. Begitupun di era Suharto, setiap orang paham Eka Prasetya Panca Karsa dan Repelita.

Pemimpin yang kuat selalu memiliki cara untuk mendapatkan sumberdaya bagi negrinya. Bagaimana Singasari dan Majapahit memanfaatkan sungai untuk memajukan perekonomiannya? Disaat negri yang kaya adalah negri yang ibu kotanya berada di pesisir pantai? Bagaimana negri lain mau berdagang denganya? Bukan memeras negrinya?

Pemimpin yang kuat selalu berkarakter memperluas wilayah kekuasaan. Diawali Singasari, Majapahit, dan Demak ingin menyatukan Nusantara. Bila duhulu berupa balatentara sekarang berbentuk pemikiran, ekonomi dan budaya. Bukankah Soekarno berhasil mengugah kesadaran anti kolonialisme dengan Konferensi Asia Afrikanya? Mengirimkan guru-guru mengajar ke luar negri? Pelajar luar negri ingin belajar di Indonesia?

Pemimpin yang lemah selalu dalam cengkeraman. Paling mudahnya dalam ekonomi. Bagaimana raja Nusantara harus menanam pohon sesuai kepentingan Belanda? Harus menjualnya ke Belanda? Tarif perdagangan dinaikkan secara sepihak? Serbuan berbagai produk import adalah cermin ketidakberdayaan.

2019 momentum pemilihan pemimpin baru. Saatnya memilih pemimpin yang kuat.

Komentar

Tulis Komentar