Inti Jiwa

Oleh: Nasruloh Baksolahar

Membaca buku 1.000 mukjizat Rasulullah saw. Membaca buku karamah para Wali. Membaca beragam keajaiban dalam kehidupan ini. Dari mana sumber keluarbiasaan itu? Keluarbiasaan itu tak bisa dipelajari. Tak bisa diturunkan dan ditularkan, karena tergantung dari energi jiwa setiap manusia. Keluarbiasaan itu berasal dari interaksi hati, jiwa, pemikiran dengan Allah. Itulah kuncinya dari keluarbiasaan hidup.

Apakah nabi Ibrahim menduga api menjadi dingin? Apakah nabi Musa menduga laut akan terbelah? Apakah nabi Yunus menduga akan diselamatkan melalui ikan paus? Apakah Rasulullah saw menduga akan diberikan Al-Quran sebagai mukjizat terbesar dan terjaga di sepanjang masa? Para nabi tak ada yang tahu. Mereka hanya menyusuri jalan kebenaran, menyeru kepada Allah, mengikatkan hidupnya pada Allah dan menguatkan hidupnya pada Allah.

Membaca karamah para ulama. Sekali membaca langsung ingat seluruhnya. Imam Ahmad hafal 1.000.000 hadist. Imam Bukhari hafal 300.000 hadist dengan runutan perawinya dan kisah hidup para perawinya. Imam Syafii mampu membangun pondasi ilmu Ushul Fiqh yang menjadi acuan dalam menggali hukum syariah sesuai dengan realita dan zamannya. Dariman seluruh kekuatan itu? Bacalah biografinya, akan tahu bagaimana kekuatan hubungannya dengan Allah.

Bagaimana perjuangan rakyat Indonesia tetap hidup? Bagaimana bambu runcing bisa mengalahkan kekuatan sekutu? Bagaimana perang Jawa bisa menghancurkan VOC Belanda? Kekuatan apa yang ada didalamnya? Mari mengupas perjalanan Syekh Yusuf yang mengajarkan ilmu Tasawuf. Mari mengupas guru Pangeran Diponegoro yang mengajarkan Tasawuf. Mereka mulai membangkitkan kekuatannya melalui keyakinan pada Allah.

Imam Nawawi Al Bantani Jawai diusir dan dilarang mengajarkan ilmunya oleh Belanda di Nusantara. Akhirnya beliau bermukim di Mekkah. Mengajarkan para jamaah haji dan pemuda dari Indonesia untuk berjuang apa pun kondisinya. Begitu juga dengan Kiyai Al Khatib Al Minangkabaui. Mereka mengajarkan keyakinan pada Allah sebagai narasi perjuangan kemerdekaan.

Menurut Hamka, dalam bukunya Perkembangan dan Pemurnian Tasawuf, Jiwa yang diliputi interaksi dengan Allah menjadi tempat pulang orang yang telah payah berjalan. Menjadi tempat lari orang yang telah terdesak. Menjadi penguat pribadi yang lemah. Menjadi tempat berpijak yang teguh bagi orang yang kehilangan tempat berpijak. Seketika bangsa Indonesia terjajah 350 tahun, rakyat Indonesia kembali untuk kemurnian interaksinya dengan Allah.

Jika keduniaan sudah diborong semua oleh pihak musuh, maka umat mencari kebahagiaan di dalam perasaannya sendiri, dalam membina kebahagiaan jiwa sendiri. Tetapi apabila pemimpin bangsa Indonesia seperti Imam Bonjol, Cik Di Tiro, Diponegoro dan lain-lain hendak melawan kekuatan penjajah yang besar, maka dengan keyakinan pada Allahlah mereka memperkuat jiwanya. Keluarbiasaan selalu hadir dari keyakinan yang kuat pada Allah.

Dengan keyakinan pada Allah, Allah akan mengajari manusia dengan qalam-Nya, mengajari manusia apa yang manusia tidak diketahuinya. Jiwa besar terlahir dari mendekati Allah, memperoleh serpihan Nur Hidayah dari Allah. Jiwanya tak terkait oleh zaman dan tidak terkukung oleh tempat. Baginya terbuka rahasia dan hijab seluruh alam, berkah anugerah dan ijin Allah. Itulah energi terbesar dalam hidup ini. Itulah inti kehidupan ini; yaitu meyakini Allah.

Komentar

Tulis Komentar