Kiat Menulis Hamka

Oleh: Nasruloh Baksolahar

Dalam buku Kenang-Kenangan Hidup, Buya Hamka menceritakan bagaimana dia menjadi seorang penulis. Menurut Hamka, dia sendiri tidak memiliki teori ada sistem baku agar bisa menjadi seorang penulis. Kuncinya, dengan kekuatan membaca tulisan orang lain maka menimbulkan dorongan jiwa untuk turut menulis.

Yang perlu diingat, kata Hamka, kita bukan menjadi pak Turut. Setiap pengarang mempunyai gaya bahasa sendiri-sendiri. Jangan pernah mengcopy paste gaya tulisan orang lain. Penulis yang berpendirian, mereka yang menempuh jalan sendiri.

Menurut Hamka, yang menelatarbelakangi menjadi penulis adalah Ayahnya. Di rumahnya banyak sekali kitab-kitab milik ayahnya yang berderet-deret di dinding. Tidak itu saja, daya kritisnya muncul karena seringnya berdiskusi dengan ayahnya. Banyak membaca dan sering berdiskusi, itulah langkah awal untuk menulis.

Hamka mulai menulis sejak usia 17 tahun dengan mengarang buku kecil yang berjudul Khatibul Ummah yang merupakan kumpulan bahan pidato kawan-kawanya. Mengingat saat itu baru Hamka yang menuliskannya, buku sederhana tersebut menjadi sangat populer di daerahnya.

Hamka sering membaca kembali tulisannya untuk memperbaiki, mengisi dan memperluas isi tulisannya sehingga bisa lebih bagus daripada tulisan sebelumnya.

Kegagalan menjadi penulis, menurut Hamka, karena sering mundur maju, ditakutkan oleh terlalu banyak teori. Merasa ilmu belum cukup, mesti lengkap syarat dan rukunya, mesti tahu ramasastra bahasa, mesti banyak penyelidikannya, baru menulis. Terlalu banyak teori justru menimbulkan ketakutan dan keraguan. Banyak temannya yang lebih pintar justru tidak berani untuk menulis.

Dalam menulis akan bertemu dengan kegagalan. Dalam menulis akan ditemukan angin baik dan buruk. Kadang inspirasi sangat luar biasa sehingga produktif menulis. Kadang sepi ide. Menurut Hamka, Ilhamlah kawan karib seorang penulis. Jika ilham tidak datang, ya sudahlah… Namun jangan berputus asa, keinginan menulis harus terus dibangkitkan.

Menulis harus memiliki prinsip. Penulisannya harus tepat, timbangannya mesti benar, adil dan berani. Karena tulisan akan mempengaruhi timbangan pemikiran masyarakat. Karena menulis hakikatnya mencurahkan pemikiran tertinggi kepada bangsanya dan dunianya. Menulis jangan lantaran perut dan kantong. Bila orientasinya seperti itu maka runtuhlah keistimewaan sebuah tulisan.

Bercita-cita tinggilah. Bermimpilah menjadi penulis seperti Tagore dari India, Iqbal dari Pakistan dan Mustafa Sadik Rifai dari Mesir. Kegagalan menjadi Penulis mesti bertemu. Kekecewaan pasti ada. Namun dengannya kita mengenal yang mana kesanggupan kita. Lalu Hamka menutup dengan, “Penulis harus mengatasi zamannya.”

Komentar

Tulis Komentar