BADAI HOAX, DUSTA DI ZAMAN MILENIAL

By. Eva Ummu Yumna

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata:

“Jujur adalah predikat bangsa besar. Berangkat dari sifat jujur inilah terbangun semua kedudukan agung dan jalan lurus bagi para pelakunya. Barangsiapa yang tidak menempuh jalan ini, niscaya ia akan gagal dan binasa. Dengan sifat jujur inilah, akan terbedakan antara orang-orang munafik dengan orang-orang beriman dan akan terbedakan antara penghuni surga dengan penghuni neraka.”

Sejak zaman Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam sudah terjadi penyebaran berita hoax yg ditiupkan oleh org2 fasik yg membenci beliau. Sampai2 beliau sendiri tdk mampu menentukan manakah berita yg benar dan manakah berita yg hoax, sehingga Wahyu turun menjelaskan akan kesucian ibunda Ummul mukminin Aisyah Ra. —> kisah Haditsulifki

Pada perang Uhud pun ketika pasukan muslim dan kafir bertemu di Medan perang tersiar berita akan wafatnya Rasulullah Saw yg akhirnya membuat kocar kacir umat Islam dan mengalami kekalahan.

Pada kasus Al-Walid bin `Uqbah, ketika diutus oleh Rasulullah Saw kepada Bani Mushthaliq untuk memungut zakat. Di pertengahan jalan, timbul rasa takut dalam hatinya terhadap Bani Mushthaliq lalu dia kembali kepada Rasulullah saw dan melaporkan bahwa Bani Mushthaliq tidak mau menyerahkan zakat bahkan mereka ingin membunuhnya. Rasulullah Saw pun menyelidiki berita tsb dan ternyata laporan itu adalah dusta semata.

So.. kalo itu terjadi sejak zaman Nabi Saw maka jika terjadi lagi zaman skrg itu merupakan hal yg biasa cuma kita sbg umat Islam kudu hati hati dan selalu waspada, berusaha fokus pada inti masalah yg lain mah cuma sbg pemanis aja gak perlu dibahas terlalu dalam. Dan musuh2 Islam telah menggunakan sarana ini untuk melemahkan umat islam. Bukankah pasti akan berulang. Yg paling penting adalah bagaimana kita bersikap dalam menghadapi berita hoax. Berikut beberapa caranya adalah :
1. Tastabbut dan Tayaqquzh (ketetapan dan kewaspadaan) cari kebenaran info tsb dan bukti2 nya serta dalam kehati hati an penuh apalagi yg menyampaikannya adalah org fasik yaitu org yg banyak melakukan dosa, sebab Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (الحجرات:6)
“Wahai org yg beriman jika datang org fasik kpd kalian membawa berita maka Tabayyun (kroscek kebenarannya) agar tdk terjadi penyesalan kpd suatu kaum Krn kebodohan mrk. Dan jadilah mereka diantara org2 yg menyesali”

2. Ta Anni dan Tarwy (Pelan2 dan perhatikan Periwayatan). Kl dalam Islam diperintahkan untuk menerima hadits yg mutawatir yg perawinya lebih banyak bukan hanya satu org saja. Krn hal tsb meminimalisir kebohongan. Dan jgn terburu2 ingin mengshare nya. Berita memang bisa membuat sedih dan senang, duka dan suka. Tp ingat jgn terlalu sedih dan jgn terlalu senang secara terburu buru. Krn keterburuan tsb adalah dari setan. Berapa banyak terjadi penipuan disebabkan kabar anak yg kecelakaan masuk rumah sakit lalu minta transfer uang dan ternyata anaknya sehat walafiat.

3. Shidq dan Amanah (jujur dan tanggung jawab). Krn pendengaran, penglihatan dan hati (perasaan) akan dimintakan pertanggung jawabannya.

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً (الاسراء:36) .
4. Fathonah (cerdas) tdk semua yg kita tau harus kita ceritakan. Dan tdk semua yg kita dengar harus kita sampaikan. Krn apa yg kita tau dan kita dengar ada yg benar ada yg bohong jika semua diceritakan berarti ada kebohongan yg telah tersampaikan.
Sbgmn sabda Rasulullah Saw :
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا [ أو إثماً] أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorg berkata kebohongan (dosa)jika dia menceritakan setiap apa yg didengarnya”

5. Istihlaf (minta bersumpah) Krn sumpah sesuatu yg sakral tdk boleh dan dosa besar jika melakukan sumpah pada suatu hal yg mengandung kebohongan besar.

 

Komentar

Tulis Komentar