Sikap Seorang Muslim terhadap Musibah

 

Abdul Ghoni DQM

Bumi pertiwi kembali dirundung duka. Belum pulih luka yang menganga di pulau Lombok akibat gempa ribuan kali yang terjadi, Jum’at lalu 28 September 2018 bumi Palu Sulawesi Tengah kembali berguncang yang diiringi gelombang tsunami. Hingga 4 Oktober kemarin, tidak kurang dari 1.400 jiwa meninggal dunia dengan 1.000 lebih di antaranya adalah penduduk kota Palu. Tentu saja, akibat gelombang tsunami dan pergerakan bumi yang terjadi, masih banyak jumlah korban jiwa yang belum dapat dievakuasi akibat tertelan bumi.

Bagaimana sikap seorang Muslim dalam menghadapi bencana tersebut? Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah membuat satu perumpamaan yang indah bahwa seorang Muslim dengan Muslim lainnya seperti satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh tersebut sakit maka rasa sakitnya akan dialami oleh anggota-anggota tubuh lainnya.

مَثَلُ المؤمنين في تَوَادِّهم وتراحُمهم وتعاطُفهم: مثلُ الجسد، إِذا اشتكى منه عضو: تَدَاعَى له سائرُ الجسد بالسَّهَرِ والحُمِّى

Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta, kasih dan sayang sesama mereka diumpamakan seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka rasa sakitnya akan dirasakan oleh semua anggota tubuh yang ada berupa panas dan demam.

Dalam hadits Bukhari, sesama Mu’min diumpamakan seperti satu bangunan, yang satu sama lain saling menopang dan menguatkan.

الْمُؤْمنُ للْمُؤْمِن كَالْبُنْيَانِ يَشدُّ بعْضُهُ بَعْضاً
Seorang Mu’min dengan Mu’min yang lain dibaratkan satu bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lainnya.

Begitulah Islam mengajarkan bahwa antar Muslim yang satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan. Perbedaan wilayah geografis, suku, bahasa, budaya dan adat istiadat tidak menjadi pembeda atau pemisah ketika ada kesamaan aqidah di dalamnya. Iman dan Islam telah mempersatukan semua yang terpisah. Salah satu bentuk penyatuan itu adalah dorongan untuk saling berempati saat yang lain sedang dirundung bencana atau musibah.

Adapun bentuk aksi dari perumpamaan sebagai satu bangunan atau satu tubuh dapat diwujudkan dengan saling meringankan beban yang ada di antara umat Islam. Dalam hadits riwayat Imam Muslim dijelaskan bahwa seorang Mu’min yang meringankan beban saudaranya, maka Allah berjanji akan meringankan beban orang tersebut pada hari akhir nanti.

من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا ، نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة
Barangsiapa yang meringankan urusan dunia Mu’min yang lain, maka Allah akan memudahkan urusan-urusannya pada hari kiamat.

Dengan demikian, kentungan kebersamaan dengan sikap saling membantu bukan hanya meringankan beban selama hidup di dunia akan tetapi semuanya bernilai sangat istimewa dan luar biasaa saat kembali kepada Sang Pencipta.

Contoh aksi meringankan beban terhadap mereka yang sedang tertimpa musibah adalah dengan mendatangi mereka guna memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi. Saat gempa bumi terjadi, hak milik menjadi tak terpikirkan karena manusia berusaha untuk menyelamatkan diri sendiri sebagai prioritas. Tidak mustahil jika para korban tidak punya apa-apa saat akan menjalani rutinitas kembali. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari, Rasulullah menyebutkan bahwa mereka yang berjalan untuk memenuhi kebutuhan orang miskin layaknya seorang Mujahid di jalan Allah.

الساعي على الأرملة والمسكين كالمجاهد في سبيل الله
Seseorang yang berusaha membantu para janda dan orang miskin, sesungguhnya mreka seperti seorang Mujahid di jalan Allah.

Tentu saja semua bentuk usaha meringankan beban adalah bagian dari bagaimana memberikan kebahagiaan dan hiburan kepada para korban. Itulah salah satu amal yang palling Allah cintai setelah seorang Muslim memenuhi kewajiban-kewajiban utamanya di hadapan Allah. Dalam hadits riwayat Imam Thabrani, Rasulullah bersabda:

ان أحب الاعمال إلى الله تعالى بعد الفرائض : إدخال السرور على المسلم ، كسوت عورته ، أو أشبعت جوعته ، أو قضيت حاجته
Sesungguhnya amal yang paling Allah cintai setelah memenuhi amal yang fardhu adalah memberikan kebahagiaan kepada Muslim, menutupi aurat mereka, mengenyangkan perut mereka dan memenuhi hajat kebutuhan mereka.

Semua gambaran di atas adalah sikap seorang Muslim terhadap saudara-saudaranya yang tertimpa musibah. Hal tersebut merupakan bentuk respon yang bersifat eksternal. Sementara respon internal yang bermuara pada bentuk introspeksi juga perlu dilakukan. Fenomena alam yang terjadi di satu wilayah, dalam beberapa ayat al-Qur’an dijelaskan memiliki keterkaitan dengan ketundukan penduduknya kepada Allah SWT. Salah satunya adalah firman Allah dalam surat al-A’raf ayat 96 yang berbunyi:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Ayat di atas menjelaskan secara eksplisit bahwa keimanan dan ketaqwaan kepada Allah menjadi sebab turunnya keberkahan dari langit dan keluarnya keberkahan dari perut bumi. Sebaliknya, kedustaan akan mendatangkan azab Allah SWT.

Sikap introspektif lain yang dapat dilakukan seorang Muslim untuk menghindari musibah dan bencana adalah dengan memperbanyak istighfar kepada Allah SWT. Hal tersebut secara jelas disebutkan dalam surat al-Anfal ayat 33 yang berbunyi:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.

Dalam Tafsir ath-Thabary dikutip pendapat Abu Musa yang menjelaskan ayat di atas. Beliau menyebutkan bahwa keamanan di dunia bisa didapat dengan 2 cara. Cara pertama adalah hidup bersama dengan Rasulullah. Hal sudah berlalu dan tidak bisa didapatkan kembali. Cara kedua adalah dengan memperbanyak istighfar, hal ini terus-menerus dapat dilakukan hingga hari kiamat.

Dari dua ayat di atas, tugas bagi setiap Muslim agar terlindungi dari azab Allah di dunia adalah dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepadaAllah dengan penuh kesungguhan. Selain itu kehidupan yang aman dapat direalisasikan dengan memperbanyak istighfar kepada Allah SWT.

Semoga Allah memudahkan kita semua untuk merealisasikan amal-amal sholeh tersebut.

Komentar

Tulis Komentar