Fisik Petarung, Buah Keimanan

Oleh: Nasruloh Baksolahar

Ketika seekor unta mengamuk di Madinah. Ketika sekor singa mengaung memasuki Madinah, tak seorang pun yang berani yang mendekat. Di tangan Rasulullah saw, semua bisa ditaklukan.

Ketika ada batu besar yang tak bisa dibelah dan diangkat. Rasulullah saw yang telah berhari-hari tidak makan dalam kelaparan mampu mengangkat batu tersebut sendirian. Ketika ada pegulat paling kuat di Makkah, yang bisa menaklukan hanya Rasulullah saw. Kekuatan fisik adalah bagian dari karakter Rasulullah saw. Kekuatan fisik juga dibutuhkan dalam sebuah kepemimpinan.

Ketika perang berkecamuk, maka yang paling dekat dengan musuh adalah Rasulullah saw. Semua sahabat berlindung di belakang Rasulullah saw. Dalam setiap peperangan, siapakah yang paling diincar? Tentu pemimpinnya. Ketika Rasulullah saw dikepung di setiap peperangan yang diikutinya, apakah ada yang bisa menaklukannya? Di perang Uhud, Rasulullah pipinya terkena senjata musuh. Itulah kondisi terparah yang pernah dialaminya.

Siapa yang mampu membobol benteng terkokoh di jazirah Arab? Benteng terkokoh adalah benteng Khaibar. Yang membobolnya, Ali bin Abi Thalib dengan tangannya sendiri. Ketika selesai perang, ternyata pintu benteng Khaibar harus diangkat oleh 40 orang. Betapa kuatnya fisik Ali bin Abi Thalib?

Umar Bin Khatab menantang seluruh pemuka kaum Quraisy yang ingin menghalanginya berhijrah ke Madinah. Menantang bertarung bagi yang berani. Sebuah tantangan yang menggetarkan nyali penduduk Mekkah. Inilah Jiwa petarung Umar Bin Khatab

Dalam semua peperangan yang dilakukan oleh kaum muslimin, adakah peperangan satu lawan satu. Umumnya satu orang muslim harus melawan 3 sampai 10 orang musuh. Lihatlah perang Badar, Uhud, Mu’tah dan sebagainya. Lihatlah peperangan di era Khalifatur Rasyidin, Bani Umayah, Bani Abbasiiyah, Saljuk, Malmuk, hingga Turki Utsmani, apakah kaum muslimin menghadapi musuh yang seimbang? Semua berat sebelah, mengapa bisa menang? Salah satunya kekuatan fisik yang prima.

Imam Ibnu Taimiyah menjadi pemimpin pasukan menghadapi bangsa Mongol. Abdullah Ibnu Mubarak, seorang Sufi, menghadapi satu regu pasukan Romawi seorang diri. Pasukan Romawi pun kocar-kacir. Muhammad bin Wasi, Sufi yang malamnya selalu menangis di mihrabnya, tampil sendiri menghadapi petarung dari Romawi yang paling gagah dan kuat di sebuah peperangan. Keimanan menciptakan kesadaran akan kekuatan fisik.

Muhammad Hanafiah putra Ali bin Abi Thalib, di era Muawiyah, mampu mengangkat orang Romawi yang paling tegap, paling berat dan paling kuat yang dikirim oleh Kaisar Romawi untuk adu tanding. Padahal orang Romawi tersebut tidak bisa mengangkat tubuh Muhammad Hanafiah yang berbadan kecil. Kekuatan fisik adalah bagian penempaan keimanan.

Ada kisah empat orang pemuda muslim, yang mampu menghancurkan beberapa kompi tentara Romawi hanya dengan berempat orang saja. Hingga akhirnya Kaisar Romawi harus menurun pasukan elit untuk mengalahkannya. Kisah ini diabadikan oleh Imam Ibnul Jauzy.

Sejarah Islam tidak saja berbicara tentang keilmuan dan akhlak tetapi juga kekuatan fisik petarung yang bersiap mengarungi terpaan berbagai medan kehidupan.

Komentar

Tulis Komentar