Konflik Pemikiran, Awal Keterpaduan Baru?

Oleh: Nasruloh Baksolahar

Makhluk sosial itulah manusia. Ingin bersama namun ada perbedaan. Akhirnya muncullah konflik. Perbedaan maksud, pemikiran, ilmu, pemahaman hingga yang terakhir kepentingan itulah penyebabnya, walau pada dasarnya memiliki tujuan yang sama. Ada yang harus diperdalam dalam setiap perbedaan, mengapa saya berbeda? Apa maksud besar sebuah perbedaan? Diri, kelompok atau organisasi? Duniawi atau ukhrawi?

Ketika Rasulullah saw wafat, semua sahabat sepakat, harus segera ada pemimpin baru. Pertanyaan siapakah? Dari Muhajirin atau Anshar? Dari Muhajirin, Abu Bakar ataukah Ali bin Abi Thalib? Dalam setiap titik peralihan, memang selalu muncul perbedaan, menuju kehancuran atau lompatan? Keberhasilan kepemimpinan, apakah penerusnya semakin lebih baik atau terpuruk? Bagaimana di era Khalifatur Rasyidin pasca wafatnya Rasulullah saw? Islam menyebar ke pelosok dunia. Ini bukti kesuksesan Rasulullah saw menyiapkan kader penerus.

Ada kejadian luar biasa pasca syahidnya Utsman bin Affan. Terbunuhnya seorang Khalifah bukanlah masalah remeh, harus segera diselesaikan. Semua sepakat Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya, namun bagaimana cara menghukum para pemberontak? Yang harus diselesaikan terlebih dahulu, memulihkan suasana agar kondusif atau menghukum para pemberontak? Disinilah terjadi perbedaan tajam antara Ali-Aisyah-Muawiyah. Semangatnya sama, menyelesaikan masalah, namun bagaimana caranya?

Setiap konflik ada perbedaan, namun ada juga persamaannya. Alam itu berbeda, namun ada tali penghubungnya yang menyatukan keteraturan alam. Kejelian ini ada pada Hasan bin Ali. Benih-benih penyatuannya sudah ada di era Ali-Aisyah-Muawiyah, Ali-Aisyah berdamai. Mereka kembali ke Mekah dan Kufah. Ali-Muawiyah melakukan proses Tahkim, namum kelompok Abdullah bin Saba dan Khawarij selalu ingin menghancurkannya. Mengapa mereka kembali menyatu? Diingatkan kembali sabda-sabda Rasulullah saw tentang perpecahan. Diingatkan kembali, memori saat mereka duduk bersama Rasulullah. Diingatkan kembali tanggungjawab terhadap bangsa. Siapa yang akan mengurus negara dan rakyatnya?

Ali-Aisyah-Muawiyah memang berkonflik, namun di dalam hati mereka memiliki tujuan yang sama. Menghukum para pemberontak. Menghukum para pembunuh Utsman bin Affan dengan cara persepsi mereka sendiri. Ini yang dibaca oleh Hasan bin Ali. Ini yang menjadi titik sentral perbaikan dan penyelesaian oleh Hasan bin Ali. Setiap perbedaan akan menghadirkan generasi baru yang menyatukannya kembali. Generasi yang memahami masa lalu dan mengantisipasi masa depan. Itu ada pada Hasan bin Ali.

Kota Kufah dan Madinah. Mercusuar ilmu pengetahuan saat itu. Namun memiliki prinsip yang berbeda dalam prinsip penggaliannya. Madinah, memiliki prinsip segala permasalahan harus diselesaikan bila ada basis pemikiran dari Al Quran dan As sunnah. Bila tidak ada maka didiamkan. Kufah, masalah bisa diselesaikan dengan penggalian akal dengan filosofi Al Quran dan As Sunnah. Madinah, tidak bisa memberikan solusi baru bila masalah sebelumnya tidak ditemukan dalam Al-Quran dan As Sunnah. Kufah, bisa tergelincir bila memfokuskan pada akal saja. Maka lahirlah perbedaan dan perdebatan para ulama.

Imam Syafii muncul menyatukan kedua kutub perbedaan ini. Al Quran dan As Sunnah harus menjadi pondasi hukum, namun bagaimana menjaga agar tidak terjadi ketergelinciran akal? Bagaimana akal menggali hukum dengan benar? Bagaimana membingkai akal dengan pondasi yang benar dan kokoh? Imam Syafii menyatukan keduanya dengan kaidah Ushul Fiqh. Madinah dan Kufah akhirnya menyatu. Generasi pemersatu selalu melihat ruang keterhubungan dan penyatuan dalam perseteruan pertentangan. Menurut Sayid Qutb, bukan perbedaan yang menyebabkan perpecahan, tapi dominasi hawa nafsulah yang menyebabkannya.

Abdullah Ibnu Masud berkeliling negri. Setiap kaum memiliki logat intonasi berbicara yang berbeda. Akhirnya, terjadi perbedaan dalam membaca Al-Quran. Abdullah Ibnu Masud melihat kaum muslimin bersitegang tentang bagaimana membaca Al Quran yang terbaik? Bagaimana mencegah perpecahan ini? Umat Islam sudah menyebar ke seluruh negri, bagaimana mencegah agar tidak ada satu pun yang berbohong atas nama Rasulullah saw? Bila setiap orang mengaku ini Sunnah Rasulullah saw, bisa menimbulkan perpecahan dengan mengatasnamakan sunah Rasulullah saw? Setiap konflik selalu ada generasi yang bisa menyatukannya. Siapa yang bisa menuntaskannya?

Ustman Bin Affan menuntaskan persoalan perbedaan bacaan al Qur’an dengan mengkodifikasikannya sesuai kaidah ketika al Qur’an itu turun. Imam Bukhari meneliti hadist-hadist Rasulullah saw dengan kategori Shahih, Hasan, Da’if dan Mungkar. Sehingga tak ada lagi ruang perpecahan yang menghancurkan. Setiap perbedaan, setiap perpecahan, setiap konflik selalu menghadirkan penyatuan. Seolah-olah ada kaidah hukum, setelah perpecahan ada penyatuan seperti sebuah kaidah yang sudah terkenal bahwa setelah kesulitan ada kemudahan.

Ilmu Fiqih menyebar ke seluruh negri. Interaksi umat Islam dengan beragam pemikiran mulai terjalin. Pengetahuan terhadap peradaban Yunani, Persia dan India mulai digali. Akhirnya umat Islam bersentuhan dengan ilmu Filsafat yang kebanyakan dari Yunani. Ilmu Fiqh cendrung pada formalitas ibadah. Ukurannya apa apa yang terlihat dan dilakukan, sehingga disebut ilmu Zahir. Filsafat berkaitan dengan akal yang mengacaukan pemikiran. Ada yang beribadah yang mementingkan rasa dan hati, fokus pada suasana bathin berupa takut, harap dan cinta. Disini terjadi perseteruan luar biasa antara pendukung ilmu zahir, akal dan bathin. Korbanya adalah Al Hallaj yang dituduh mengajarkan kesatuan wujud antara Tuhan dan Makhluk. Akhirnya dia dihukum mati. Perpecahan besar pun dimulai. Siapa yang menyatukannya?

Al Ghazali mempelajari ilmu Fiqh hingga mumpuni. Membelajari ilmu logika dan filsafat. Mempelajari ilmu jiwa. Akhirnya terlahir karya besar yaitu Ihya Ulumudin. Dengan Ihya Ulumudin, Ilmu Zahir, Akal dan Bathin berpadu. Akal diasah untuk menemukan hakikat diri, hidup dan Allah. Akal tanpa hati dan Fiqh akan tersesat. Fiqh tanpa hati akan kehilangan manisnya ibadah dan tak tercapainya tujuan ibadah. Hati tanpa Fiqh, ibadanya tidak diterima karena melabrak takaran dan ketentuannya. Semua yang berbeda, semua yang bertentangan, semua yang menimbulkan perpecahan ternyata bisa dipadukan. Hanya butuh, dengan apa direkatkan? Bagaimana merekatnya?

Semua perpecahan akhirnya berujung pada keterpaduan pula. Perpecahan membentuk kubu yang jelas tak tersamar. Konflik menjelaskan perbedaan yang ekstrim. Namun dari perbedaan yang ekstrim itulah kita melihat sebuah jalinan yang sebenarnya saling terhubung dan berpadu. Konflik itu menuju pada penyatuan baru untuk menghadapi tantangan baru. Konflik sebuah penyesuaian karena terguncang dengan tantang baru yang bermunculan. Ada kebaikan, ada inovasi dalam setiap konflik. Begitu pun dalam berbangsa, berorganisasi dan berjamaah? Temukan cara baru untuk menyatukannya

Komentar

Tulis Komentar