Memiskinkan Diri Setelah Berkuasa

Oleh: Nasruloh Baksolahar

Sedikit meminta. Sedikit menerima. Sedikit menuntut hak. Sedikit meminta jatah. Itulah pribadi yang kaya dan berbahagia. Namun mengapa para petinggi negri, selalu meminta lebih dari jatah anggaran daerah dan negara?

Semakin berkuasa, semakin tak terkira keinginannya. Seolah anggaran daerah dan negara adalah haknya. Membuat beragam cara agar anggaran masuk ke kantongnya sendiri. Anggaran menjadi wajah kamuflase memakmurkan negri, namun uangnya mengalir ke kantongnya sendiri.

Mengapa hutang ribuan trilyunan tak bisa memakmurkan? Mengapa kekayaan alam tak bisa mensejahterakan? Padahal perut kita tidak sebesar perut binatang yang besar. Padahal tubuh kita berpostur kecil-kecil. Mengapa tak bisa mengenyangkan seluruh rakyat?

Rasulullah saw tidur di atas pelepah kurma. Sehari makan, sehari berpuasa. Fatimah hidup dalam kemiskinan. Pernah suatu hari, wajah Fatimah pucat lemah karena tak ada makanan. Saat ditanya mau makanan atau didoakan saja agar kenyang oleh Rasulullah saw, Fatimah memilih didoakan agar perutnya kenyang.

Terdengar bahwa Rasulullah saw mendapatkan kekayaan banyak. Mendapatkan tanah Fandak seluas kota. Namun Rasulullah saw tetap hidup dalam kesederhanaan. Saat Fatimah mengadukan kesulitannya, Rasulullah saw hanya mengajarkan dzikir-dzikir saja. Saat Rasulullah saw wafat, seluruh kekayaannya dimasukan ke Kas Negara, tak ada yang diwariskan.

Dalam kemiskinan, mengapa Rasulullah saw mampu memberi semua permintaan kebutuhan rakyatnya? Dalam kemiskinan, mengapa Rasulullah saw bisa memberikan ratusan unta kepada kaum muslimin yang baru masuk Islam. Sehingga para petinggi kabilah Arab berkata, “Masuklah Islam, Muhammad akan memberikan keinginan kita seolah-olah dia tidak pernah takut miskin.” Dalam kemiskinan pribadi, bisa memberikan harta yang banyak kepada orang lain.

Harta kekayaan berdatangan dari segala penjuru. Umar Bin Khatab akan memberikan harta tersebut pada rakyatnya. Tiba-tiba seseorang berbicara, “Saya tidak mau menerima harta tersebut sebelum Umar mengambilnya.” Orang tersebut melihat sang Umar berpakaian dengan tambalan yang cukup banyak. Lalu putranya Umar berkata, “Akulah yang menanggungnya.” Setelah itu barulah mereka mau mengambil harta yang dibagikan Umar. Khalifah yang tak pernah memikirkan dirinya, karena sibuk memikirkan rakyatnya.

Adakah yang miskin setelah menjadi berkuasa? Adakah yang memilih miskin ketika berkuasa? Adakah yang hartanya habis setelah menggenggam kekuasaan tertinggi? Rasullulah saw, Khalifatur Rasyidin dan Umar Bin Abdul Aziz, itulah contohnya. Mereka menggenggam anggaran negara, menggenggam kekayaan sumber daya daerah-daerah yang pernah dikuasai Romawi dan Persia, mereka hidup memilih dalam kemiskinan namun rakyatnya hidup dalam keberlimpahan kemakmuran.

Ketika penguasa berorientasi pada kekayaan dan keserakahan, maka rakyatnya yang akan dimiskinkan oleh sistem yang dirancangnya. Sistem dirancang untuk memiskinkan bukan mengembangkan dan membangun kekayaan rakyatnya.

Apakah ada calon pemimpin yang berkarakter Khalifatur Rasyidin dan Umar Bin Abdul Aziz? Pilihlah pemimpin yang lahir dari penempaan hidup yang mereka alami. Carilah pemimpin yang perjalanan hidupnya seperti yang mereka lakukan.

Mengapa di setiap zaman, pemimpin yang tak memperdulikan dirinya selalu berhasil membangun bangsanya?

Komentar

Tulis Komentar