TARBIYAH DZATIYAH

Adanya gonjang-ganjing kehidupan yang tak pernah berhenti. Media sosial yang terus menjejali nalar manusia tanpa ampun. Semua ini mengharuskan setiap orang untuk tetap bisa mengendalikan dirinya. Setiap orang harus tetap sadar bahwa ia memiliki dirinya sendiri yang tidak harus terbawa oleh berbagai arus yang ada di luar. Ia harus yakin bahwa dirinya ada dalam kontrol, sehingga tidak mudah terombang-ambing dengan berbagai ketidakpastian. Tanpa itu, manusia akan merasa hampa dan merasakan ada yang hilang dari dirinya.

Laksana seorang nakhoda kapal yang tengah mengarungi lautan samudera yang luas, ia tetap memegang kendali boat atau kapalnya. Hempasan ombak dan gelombak laut yang tinggi tidak membuatnya kehilangan pegangan.
Kebutuhan untuk bisa mengontrol diri dan menjaga ketenangan hati semakin terasa kebutuhannya bagi seorang aktivitas dakwah. Hal ini mengingat mereka tidak hanya dituntut untuk bisa mengendalikan dirinya akan tetapi juga harus terus-menerus aktif berkontribusi dalam menebarkan kebaikan kepada sebanyak mungkin orang.
Apa resep untuk bisa tetap tenang di tengah ujian dan tantangan ketidakpastian dalam hidup saat ini?
Tarbiyah Dzatiyah adalah jawabannya. Apa yang dimaksud dengan Tarbiyah Dzatiyah? Tarbiyah Dzatiyah merupakan mujahadah individual seseorang untuk men-tarbiyah (menumbuh-kembangkan) dirinya tanpa dimutabaah oleh orang lain.

Tarbiyah Dzatiyah sangat penting bagi setiap orang, mengingat beberapa hal. Pertama, sesungguhnya setiap manusia bertanggungjawab secara individual di hadapan Allah. Kedua, Hisab yang menjadi bagian dari proses perjalanan akhirat manusia juga dilakukan secara individual. Dalam surat al-An’am ayat 94, dijelaskan bahwa manusia kembali kepada Allah sendiri-sendiri sebagaimana mereka pertama kali diciptakan oleh Allah. Pertanggungjawaban dan hisab adalah hal yang akan terjadi saat manusia kembali kepada Allah. Pada saat itu, setiap orang menghadap kepada Alalh secara individual.

Di samping itu, proses Tarbiyah Dzatiyah menjadi sangat penting dalam rangka menyempurnakan peran Murobbi dalam mentarbiyah seseorang. Bagaimanapun adanya, seorang Murobbi tentu saja memiliki banyak kelemahan dan kekurangan. Di sinilah peran Mutarabbi untuk menyempurnakan peran yang tidak bisa di-handle oleh Murobbinya. Hal ini juga berefek positif pada kesiapan setiap kader menerima siapapun yang akan menjadi Murobbinya.Murobbi bukan lagi satu-satunya sumber proses tarbiyah bagi dirinya. Justru diri sendiri Murobbi yang harus menjadi sumber terbesar proses tarbiyah yang dilakukan setiap orang. Kesibukan setiap kader melakukan Tarbiyah Dzatiyah menghilangkan kesempatan dan kesibukan untuk menilai para Murobbi mereka, terlebih para Qiyadah.

Jika di-flashback ke belakang terkait dengan sejarah kehidupan para orangtua dahulu, hampir tidak ada satu proses tarbiyah yang mereka jalani seperti yang ada saat ini. Pola penanaman nilai-nilai Islam yang didapatkan, hanya sebatas transfer ilmu saja tanpa ada upaya yang berkesinambungan bagaimana menerapkan ilmu tersebut dan menghadirkan perubahan pada setiap individu. Akan tetapi, mereka dapat dikatakan cukup sukses membina anak-anak dalam keadaan yang serba kekurangan.

Apa rahasianya? Ternyata, para orangtua dahulu cukup sukses dalam melakukan Tarbiyah Dzatiyah. Mereka punya wirid (perkataan dan perbuatan) harian, pekanan, bulanan bahkan tahunan. Maka wajar jika kemudian ada orangtua yang dapat gelar-gelar tertentu secara informal di tengah masyarakat. Ada orangtua yang digelari ahli silaturrahim, karena setiap hari raya Idul Fitri ia selalu mengunjungi saudara-saudaranya meskipun sangat jauh tempat tinggalnya. Ada orang tua yang menjaga betul shalat malamnya. Sebagian lain menjaga shalat Dhuha, atau shalat Tasbih. Oleh karena itu sangat wajar, jika kemudian mereka tetap utuh dan komitmen dengan nilai-nilai yang diyakininya. Tawaran dan rayuan dunia terlalu murah untuk bisa mengubah pendirian mereka.

Proses Tarbiyah Dzatiyah yang memiliki kekhasan berupa “tidak dimutabaah oleh orang lain”, meniscayakan tumbuhnya satu kebiasaan positif dari dalam diri setiap orang yang diiringi dengan penuh kesadaran, tanpa adanya tekanan. Setiap orang dapat menentukan sendiri aktivitas kebaikan dan kadarnya yang akan diterapkan. Tentu saja, setelah proses itu dilalui, setiap orang akan termotivasi untuk melakukan dan menjaganya dalam durasi waktu yang panjang. Bahkan lebih dari itu seseorang dapat merealisasikan setiap perintah Allah hingga saatnya meninggal dunia. Hal tersebut yang menjadi perintah dalam al-Qur’an surat al-Hijr ayat 99 yang memerintahkan setiap Mu’min untuk beribdah kepada Allah hingga kematian menjemputnya.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).
Tumbuhnya proses Tarbiyah Dzatiyah akan lebih alami dan berdampak jangka panjang. Ternyata hal inilah yang disukai oleh Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam hadits yang berbunyi:
عن أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها قالت: سُئل النبيُّ صلى الله عليه وآله وسلم: أيُّ الأعمال أحبُّ إلى الله؟ قال: ((أَدْوَمُها وإنْ قَلَّ)). وقال: اكْلُفُوا مِن الأعمال ما تُطِيقُون
Dari Aisyah RA diceritakan bahwa satu hari Rasulullah ditanya, “apakah amal yang paling dicintai oleh Allah?” kemudian Rasul menjawab, “amal yang paling lama walaupun sedikit.”

Komentar

Tulis Komentar