Isra’mi’raj dan Optimisme

Dalam Sirah Nabawiyah dijelaskan bahwa sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi SAW mengalami dua ujian yang cukup besar. Ujian tersebut adalah peristiwa meninggalnya Sang Paman, Abu Thalib, yang tidak lama kemudian disusul dengan ujian karena meninggalnya sang istri tercinta, Khadijah. Kedua peristiwa tersebut terjadi pada tahun yang sama, yaitu tahun ke-10 kenabian yang kemudian disebut sebagai tahun kesedihan (‘amul huzn). Kedua tokoh tersebut merupakan representasi dari dua kekuatan vital dalam setiap gerakan. Keberadaan Abu Thalib yang banyak melindungi Nabi dari penindasan Kafir Quraisy merupakan representasi dari kekuatan militer. Tentu saja sangat berat, sebuah gerakan tanpa proteksi dari militer. Sementara Khadijah sebagai istri adalah penyandang dana dakwah yang sangat besar. Beliau merepresentasi kekuatan ekonomi yang menopang sebuah gerakan. Maka wajar jika sepeninggalnya kedua tokoh tersebut, perlakuan orang kafir Quraisy kepada Nabi dan para sahabat semakin keras.


Di antara bentuk perlakuan Kafir Quraisy kepada Nabi, diceritakan dalam kitab “Ar-Rahiq al-Makhtum”. Pernah suatu hari Nabi pulang ke rumah dengan penuh debu dan pasir di kepala beliau. Sesampai di rumah, Fatimah membersihkan kepala Nabi dari kotoran sambil bergumam, “Wahai Bapakku, sebelum meninggalnya Paman, belum pernah engkau diperlakukan seburuk ini oleh mereka. Akan tetapi hari ini mereka telah berani melakukannya”. Sepenggal kisah tersebut menunjukkan sudah sedemikian beraninya Kafir Quraisy untuk melakukan intimidasi terhadap Nabi agar berhenti dari aktivitas dakwahnya.


Namun demikian, di balik ujian-ujian yang begitu berat dirasakan oleh Nabi, Allah menggantinya dengan sesuatu yang sangat luar biasa. Terbukti benar apa yang dijanjikan Allah dalam surat al-Insyirah ayat 5, yang berbunyi:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,


Ayat tersebut menunjukkan bahwa kemudahan selalu datang pasca kesulitan. Solusi selalu datang pasca permasalahan. Bahkan demi menekankan kebenaran kandungannya, ayat tersebut terlebih dahulu diawali dengan kata “inna” (sesungguhnya). yang menunjukkan kesempurnaan validitas isinya. Lebih dari itu, ayat tersebut ditekankan kebenaran isinya dengan pengulangan secara penuh ayat tersebut dan disebutkan pada ayat yang ke-6.


Biasanya, bentuk penekanan pada satu susunan kalimat, akan dipilih kata tertentu saja yang membutuhkan. Akan tetapi pada ayat tersebut, Allah menekankan dalam bentuk satu kalimat secara penuh, sehingga keseluruhan kata diulangi dan ditekankan kebenarannya. Dengan demikian ayat di atas diberikan penekanan dalam bentuk “inna” dan “taukid”. Adapun bentuk kemudahan yang Allah berikan kepada Rasulullah adalah berupa perjalanan Nabi dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Sebagaimana mukjizat pada umumnya, peristiwa tersebut ditujukan untuk melemahkan seluruh kemampuan dan kekuatan manusia.


Satu poin besar yang dapat dijadikan Ibrah dari peristiwa ini adalah adanya optimisme dalam setiap situasi dan kondisi. Setiap Muslim harus meyakini bahwa kemudahan selalu datang mengiringi kesulitan yang dihadapi orang-orang yang beriman. Jalan keluar selalu datang saat seseorang menghadapi berbagai masalah, betatapapun sulitnya. Allah sudah menyiapkan kemudahan dan jalan keluar pada setiap fase kehidupan manusia. Hal tersebut termaktub dalam bagian surat ath-Thalaq ayat 2 yang berbunyi:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.


Sebuah keyakinan akan adanya kemudahan setelah kesulitan dan keyakinan adanya jalan keluar dalam setiap permasalahan akan menghadirkan optimisme dalam diri setiap orang yang menjalani kehidupan. Dalam kehidupan sosial, optimisme sendiri memberikan dampak positif pada diri pelakunya sendiri. Optimisme merupakan bagian dari proses bangkit kembali setelah seseorang mengalami keterperukan. Hal ini sejalan dengan psikologi positif yang mencoba mengantisipasi (tindakan preventif) berbagai macam penyakit kejiwaan, yang salah satu poin besarnya adalah melalui penanaman optimisme.


Optimisme sebagai seorang Muslim semakin meningkat bersama dengan bimbingan dan pertolongan Allah. Pada peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi diberangkatkan oleh Allah dari Masjid al-Haram di kota Mekkah menuju Masjid al-Aqsha di Palestina, kemudian naik ke langit hingga ke Sidrat al-Muntaha. Perjalanan tersebut adalah mukjizat dari Allah dan diabadikan dalam surat al-Isra’ ayat 1 yang berbunyi:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.


Peristiwa Isra’Mi’raj di atas menjelaskan bahwa segala hal yang mustahil dan tidak mungkin pada diri manusia, menjadi sangat mungkin untuk bisa terjadi bersama dengan Allah. Allah adalah tempat bergantung seluruh umat manusia tanpa kecuali. Allah yang menggenggam semua yang ada di langit dan di bumi, karena semua adalah milik-Nya.


Namun kadangkala saat seseorang dalam kesulitan, ia lebih mudah curhat kepada sesamanya daripada kepada Allah. Padahal Allah maha kaya akan jalan keluar, sementara setiap manusia membutuhkan solusi. Pada saat yang lain, seseorang lebih nyaman curhat di media sosialnya. Padahal tidak semua respon pembacanya bernada positif. Respon negatif di media sosial, justru menambah beratnya permasalahan yang tengah dihadapi.


Manusia sebagai tempat curhat, juga sangat terbatas untuk menerima curhatan seseorang. Mungkin sesekali tangisan saat curhat dapat diterima dengan penuh simpati dan empati. Akan tetapi pada pertemuan berikutnya, curhatan itu akan terasa dingin bahkan sang pendengar sudah mulai enggan mendengarkan. Bagaimana dengan Allah? Justru rintihan seorang hamba akan menjadi jalan kecintaan Allah kepadanya. Mata yang meneteskan air mata di hadapan Allah dengan merefleksikan bahwa kesulitan yang tengah dihadapi dapat terjadi karena dosa dan kesalahan sehingga ia memohon ampunan, justru menjadi mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka. Curhatan dengan linangan air mata yang bisa jadi menjemukan pada manusia, justru menjadi jalan kemuliaan seseorang di sisi Allah.
Dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi, Nabi bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهَمَا النَّارُ أَبَداً : عَيْنٌ بَكَتْ مِننْ خَشْيَةِ اللهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ”.
Rasulullah SAW bersabda: “Dua mata yang tidak akan disentuh api neraka untuk selama-lamanya : mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang bermalam dalam rangka berjaga di jalan Allah”. (HR. Tirmidzi)

Optimisme yang harus dimiliki manusia, tidak hanya terkait dengan urusan dunia. Optimisme lebih besar dibutuhkan terkait dengan kebahagiaan manusia dalam kehidupan akhirat. Peristiwa Isra’ Mi’raj memberikan kesaksian betapa setiap orang memiliki kesempatan untuk mendapatkan yang terbaik dalam kehidupan hakiki yang akan dijalani. Terlepas dari kelas ekonomi, sosial, dan politik, setiap orang memiliki peluang untuk mendapatkan happy ending-nya saat dimasukkan ke dalam syurga dan diselamatkan dari neraka. Hal ini tergambar melalui peristiwa Isra’ Mi’raj ketika Nabi diperdengarkan suara terompah Bilal berjalan di syurga.
Bilal pada awalnya adalah seorang budak. Pada masa jahiliyah, seseorang yang menjadi budak akan sama kedudukannya dengan hewan. Seorang budak tidak memiliki dirinya sendiri. Ia diperjualbelikan laksana hewan di berbagai tempat transaksi seperti pasar. Namun kedudukannya di sisi Allah begitu mulia setelah dia menjadi Muslim. Seorang budak dari Ethiopia dengan berbagai identitas keterbelakangan dan kemiskinannya, ternyata dapat menggapai kesuksesan tertinggi di sisi Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengenal berbagai stratifikasi sosial selain ketundukan seseorang kepada Allah. Apapun keadaan seseorang sangat potensial untuk mendapatkan kesuksesan sejatinya.


Di antara bukti kemuliaan Bilal adalah tatkala dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, nabi diperdengarkan seorang terompah Bilal di dalam syurga. Sebagai disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari, Nabi bersabda:
أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لبلال عند صلاة الفجر يا بلال حدثني بأرجى عمل عملته في الإسلام فإني سمعت دف نعليك بين يدي في الجنة قال ما عملت عملا أرجى عندي أني لم أتطهر طهورا في ساعة ليل أو نهار إلا صليت بذلك الطهور
“Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau amalkan dalam Islam, karena aku sungguh telah mendengar gemerincing sandalmu di tengah-tengahku dalam surga.” Bilal berkata, “Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling kuharapkan di sisiku, hanya aku tidaklah bersuci di waktu malam atau siang, kecuali aku shalat bersama wudhu itu sebagaimana yang telah ditetapkan bagiku.


Dengan demikian Isra’ Mi’raj juga memberikan pesan akan kesetaraan seseorang di hadapan Allah. Setiap orang berhak optimis untuk mendapatkan syurga dengan segala kelebihan dan kekurangan yang mereka dimiliki. Manusia dengan segala ujian kesulitannya memiliki kesempatan untuk meraih syurga. Kesulitan yang dialami seseorang dapat berbuah syurga dengan sikapnya yang tepat. Kesabaran saat kesulitan akan berbuah amal shaleh. Begitu pula dengan kesenangan dan kemudahan yang dapat membuahkan amal shaleh dengan rasa syukur sebagai bentuk penyikapan yang tepat. Semakin tunduknya seseorang kepada Allah dengan kelimpahan harta yang dimiliki, akan membawa kemuliaan pada dirinya.


Sedemikian kentalnya nilai-nilai optimisme dalam perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi, sehingga peristiwa tersebut dapat mengangkat entitas jiwa manusia menjadi pribadi-pribadi yang penuh optimisme dalam menjalani kehidupannya, yang diiringi dengan kesadaran untuk bersandar hanya kepada Allah. Bersama Allah, tidak ada yang tidak mustahil. Optimisme itu kemudian memuncak pada kesuksesan manusia saat kembali kepada Allah, karena itulah kesuksesan sejati yang sebenarnya menjadi harapan semua manusia tanpa kecuali. Salam sukses bersama Isra’ Mi’raj!

Komentar

Tulis Komentar