Hidup Manusia seperti Ikan dalam Aquarium

Abdul Ghoni DQM

Saat seseorang melaksanakan ibadah puasa, ia tidak rela sebutir nasi masuk ke dalam perutnya. Ia tidak rela setetes air pun membasahi tenggorokannya. Meskipun saat ia ingin melakukannya, tidak seorangpun yang melihat. Inilah tingkat kesadaran dalam beragama yang luar biasa.

Kesadaran ini yang disebut dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim sebagai ketundukan pada level “al-Ihsan”. Di dalam hadits disebutkan definisi “al-Ihsan” sebagai berikut:
أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك
“Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya (Allah), sekalipun engkau belum mampu seperti, yakinlah bahwa Allah melihatmu.”

Dari definisi di atas setidaknya yang ada pada diri orang yang berpuasa adalah kesadaran “fainnahu yaraaka” (sesungguhnya Allah melihatmu). Kesadaran itulah yang menggerakkan hati dan jiwa orang yang berpuasa sehingga mampu menolak keinginan untuk makan walaupun tidak ada yang melihat. Terpatri kuat dalam dirinya bahwa Allah pasti melihat, mengetahui, dan menyaksikan apa yang dilakukan. Begitulah sebenarnya hakikat hidup manusia. Tidak ada tempat, tidak ada waktu, kecuali Allah selalu mengawasi setiap gerak langkahnya.

Ibarat sebuah mini market, ketika kita masuk ke dalamnya sudah nampak jelas adanya CCTV di beberapa sudut. Apa yang ada di benak pikiran kita? Masih adakah dorongan untuk melakukan pencurian di tempat tersebut? Tentu saja tidak sama sekali. Keengganan melakukan pencurian menjadi kuat karena ada kesadaran bahwa apa yang dilakkukan terekam sepenuhnya di dalam CCTV tersebut.

Bagaimana dengan pengawasan Allah kepada manusia?

Dalam surat al-Fajr ayat 14, Allah berfirman:
إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ
“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”

Dalam ayat tersebut ada penekanan akan kebenaran isi ayatnya dengan penambahan kata “inna” (sesungguhnya) pada awal kalimat. Kata “inna” tersebut menunjukkan kualitas kebenaran kalimat sesudahnya. Penekanan akan kebenaran juga ditunjukkan dengan tambahan “la” pada kalimat “labil mirsad” yang bermakna “niscaya”. Dengan adanya kedua penekanan ini semakin menguatkan akan kebenaran kandungan ayat sebagai sebuah pesan dari Allah kepada manusia.

Atas dasar ayat al-Qur’an di atas, maka jika diperhatikan secara seksama, sebenanrya manusia menjalani aktivitas hidupnya dengan penuh pengawasan tanpa sedikit pun celah untuk lari dari pengawasan tersebut. Fenomena manusia di alam dunia dapat diibaratkan seperti ikan dalam aquarium yang serba transparan. Tidak ada hijab yang menghalangi pandangan dan pengetauan Allah atas diri manusia.. Kemana pun ikan itu bergerak, maka pemiliknya tetap tenang saja tanpa ada kekhawatiran apakah ikan tersebut akan lari dan lain sebagainya.

Hal senada juga dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Hadid ayat 4 yang berbunyi:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan Dia (Alah) bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan.”

Bentuk pengawasan terhadap seluruh aktivitas manusia di muka bumi, tidak berhenti di situ. Dalam surat al-Zalzalah ayat 4, Allah menjelaskan tentang bumi yang akan bercerita tentang tingkah laku dan perbuatan manusia. Ayat tersebut berbunyi:
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”

Imam Ibn Jarir al-Thabari menjelaskan makna ayat tersebut bahwa atas izin Allah bumi kelak akan bercerita tentang perbuatan manusia baik dari mereka yang taat kepada Allah maupun yang berbuat maksiat kepada-Nya.

Ada pepatah berbunyi; “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Pesan tersirat dari kalimat tersebut bahwa pergerakan manusia selalu berada di antara langit dan bumi. Tidak ada tempat, kecuali pada saat itu seseorang sedang berada di atas permukaan bumi dan di bawah lapisan-lapisan langit yang kokoh. Dengan demikian bumi atas kehendak Allah menjadi bagian dari ciptaan Allah yang mengawasi dan merekam perbuatan manusia.

Lebih dari itu, pengawasan terhadap perbuatan manusia juga dilakukan oleh anggota tubuh dari manusia itu sendiri. Mungkin saat ini, anggota tubuh setiap orang seolah diam dan membisu menyaksikan perbuatan masing-masing. Ternyata dalam kebisuannya itu, anggota tubuh manusia juga merekam jejak langkah tuannya. Hal tersebut dijelaskan dalam surat Yasin ayat 65 yang berbunyi:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”

Terkait ayat ini, ada cerita yang sangat menyentuh yang ditulis oleh Jamil Azzaini di dalam blognya dengna judul tulisan “Chrisye, Taufik Ismail dan Surat Yaasiin: 65.”

Jamil Azzaini menceritakan bahwa Taufik Ismail diminta oleh Chrisye untuk membuat syair religi dalam waktu sebulan. Taufik Ismail merasa kesulitan hingga hari-hari terakhir janjinya. Hingga tiba suatu malam saat ia membaca al-Qur’an dan sampai pada bacaan ayat di atas. Saat itu ada dorongan bagaimana memasukkan kandungan ayat tersebut dalam syair religi yang diminta oleh Chrisye. Maka jadilah sebuah syair yang berjudul “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”.

Berikut cuplikan indah syair tersebut:
Akan datang hari
Mulut dikunci
Kata tak ada lgi
Akan tiba masa
Tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita
Bila harinya
Tanggung jawab, tiba…

Betapa indahnya bimbingan Allah dalam al-Qur’an yang menjelaskan ini semua. Mungkin pada saat ini, semua anggota tubuh hanya taat dan patuh menerima perintah tuannya, akan tetapi pada saatnya semua anggota tubuh diberikan hak otonom oleh Allah untuk menyampaikan apa yang dilakukan oleh tuannya. Saat ini semua anggota badan hanya pasrah dan tidak bisa menolak apa yang diminta sang tuan, tetapi bila saatnya nanti ia akan berbicara apa adanya di hadapan Allah Sang Pencipta. Pada saat itu, mulut yang biasanya pandai mengelak, sudah terkunci dan tak bisa berkata apa-apa. Hanya kebenaran yang akan nampak tanpa dapat dimanipulasi lagi.

Tidak berhenti sampai di situ, pengawasan terhadap perjalanan hidup manusia lebih detail dari apa yang diperkirakan. Gambaran rincinya perbuatan manusia yang diawasi dijelaskan dalam surat Qaf ayat 18 berikut ini:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya
malaikat pengawas yang selalu hadir.”

Ayat tersebut menjelaskan betapa rincinya hal-hal yang direkam dalam perjalanan hidup manusia. Tidak ada yang luput dari pengawasan, tidak ada yang terlewat dari pantauan Allah. Sehingga setiap kata dan kalimat pun yang keluar dari lisan akan diperhitungkan, dan Allah mengutus Malaikat untuk mencatatnya. Ada ungkapan yang menyebutkan bahwa lidah adalah daging tak bertulang.

Ungkapan ini menjelaskan betapa mudahnya lidah bergerak untuk mengeluarkan kata atau kalimat. Bahkan tidak sedikit ada yang tidak mampu mengontrol gerak lidahnya hingga kalimat dapat meluncur deras tanpa batas kemudian seseorang merasa bersalah setelah itu. Seseorang dapat berkata-kata kemudian di akhir perkataannya ia meminta maaf karena sudah “keceplosan”.

Dengan demikian mengontrol lidah jauh lebih sulit dari anggota badan yang lain yang memiliki tulang. Lebih mudah bagi kita untuk menjaga kaki untuk tidak melangkah ke tempat yang tidak baik. Lebih gampang bagi seseorang untuk mengontrol tangannya agar melakukan hal-hal yang baik saja. Akan tetapi dengan lidah atau lisan, sungguh jauh berbeda. Tingkat kesulitan mengontol lidah jauh lebih tinggi dari anggota badan yang lainnya. Ketika pengawasan hingga pada perbuatan lisan, maka kontrol terhadap perilaku anggota tubuh yang lain pasti adanya.

Sungguh hidup manusia sangat transparan di hadapan Allah. Sungguh tidak ada yang tertutup dari pengawasan Allah. Allah mengawasi seluruh perjalanan hidup manusia 24 jam sehari tanpa jeda. Bumi pun atas izin Allah akan bercerita tentang kita. Anggota tubuh yang saat ini selalu mengikuti keinginan kita, juga akan memberikan kesaksian tentang tuannya. Bahkan pengawasan tersebut sangat detail hingga setiap kata dan kalimat yang keluar dari lisan.

Maka menjadi keharusan bagi setiap manusia untuk terus berusaha membuat catatan –catatan yang baik dalam hidupnya, sebagai bukti kesadaran atas apa yang Allah sampaikan kepadanya.

Komentar

Tulis Komentar