Bermuhasabah dengan Berpolitik

Oleh: Nasruloh Baksolahar

Politik memang penuh hiruk-pikuk, namun mengasyikkan. Bukankah para Rasul juga sering berargumentasi dan berdebat? Seperti Nabi Ibrahim dengan Namrudz? Seperti Nabi Musa dan Harun dengan Firaun? Seperti Nabi yang lainnya dengan para pembesarnya? Begitulah argumentasi dan perdebatan. Menghadapi para pembesar kaumnya, itulah takdir pembela kebenaran.

Jangan aneh bila para pembesar suatu kaum menjadi pembela rajanya, itu garis sejarah. Jangan aneh bila pembesar menindas para jelata yang membela kebenaran. Memang begitulah catatan kezaliman di setiap zaman.

Bila akal sehat telah hilang. Bila argumentasi sudah tersudutkan. Bila semua corong opini tidak bisa membungkam akal sehat dan nurani. Maka hanya kekerasan dan penjara yang menjadi andalan. Maka pembungkaman fisik dan pemikiran menjadi strategi pamungkas atas nama penghinaan kepada para pembesar dan undang-undang. Itulah jalan para tiran. Namun itu pula jalan dan medan jihad bagi para pelaku kebenaran. Untuk apa hidup bila hanya diam menjadi penonton?

Dalam setiap kekuatan kezaliman ada kelemahan yang esensial yaitu menghadapi jiwa manusia yang merdeka. Jiwa manusia yang bebas memilih. Ini takdir semua jiwa yang ruhnya ditiupkan oleh Allah. Itulah mengapa Ijtihad dijaga. Itulah mengapa musyawarah menjadi media keberkahan dari Allah. Maka di setiap zaman pengekangan hanya akan menjadi pembunuh bagi yang menciptakannya.

Perbudakan yang sudah menjadi sistem dunia penjajahan akhirnya terhapus dengan sendirinya, walau ditopang oleh kekuatan seluruh penguasa di dunia. Kerja Rodi Belanda justru memunculkan semangat persatuan dan ikatan batin. Namun mengapa para pembesar penguasa selalu mencari pengekangan sebagai cara pembungkaman?

Siapakah yang paling banyak dikritik? Siapakah yang paling banyak dihina? Itulah resiko menjadi pemimpin. Itu pula cara menghapus dosa dan kesalahan dari para pemimpin. Itu pula jalan hidup para pemimpin. Apa yang muncul dari jiwa pemimpin, itulah karakter aslinya. Berlapang dada atau membungkamnya? Ujian dua telinga adalah mendengarkan kritik dan hinaan, itulah mengapa telinga diciptakan.

Cara meraih kebaikan dari telinga adalah mendengarkan kebaikan yang bisa membangkitkan kapasitas diri. Namun juga mendengarkan keburukan tentang diri dengan rendah hati. Mengapa harus terluka dengan kritik dan hinaan bila jiwa manusia adalah tempatnya kesalahan?

Dengan politik kita tahu keegoan kita. Kita tahu rasa pongah kita. Dengan hiruk pikuk politik kita tahu ketenangan jiwa di tengah hujatan. Dengan politik kita tahu apakah ibadah yang digeluti membuahkan kebersihan hati? Politik adalah medan tontonan jiwa yang membongkar siap kita sebenarnya.

Politik selalu menghasilkan para diktator juga memuncul jiwa yang bersih menjadi pemimpin yang adil. Politik selalu memunculkan para koruptor juga mereka yang berkhidmat pada rakyatnya. Politik menghasilkan para penghianat juga para nasionalis. Politik selalu melahirkan para munafikin juga para mukhlisin sejati.

Bermuhasabah diri yang paling mudah adalah berkiprah dalam politik, lalu lihatlah bagaimana caramu berpolitik? Di situlah kebusukan diri akan terbongkar dengan sempurna. Disitulah kita menjadi manusia yang selalu menangis dihadapan Allah karena kebusukan diri.

Komentar

Tulis Komentar