Takdir Kebatilan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Terusirnya Bani Nadhir-Yahudi dari Madinah, padahal mereka bersekutu dengan Musyrikin-Mekah dan para munafikin. Ini cermin abadi persekutuan kebatilan. Tidak ada ikatan hati dalam kebatilan. Yang ada kepentingan saja yang siap saling berpecah.

Jangan khawatir dengan persekutuan kebatilan karena mereka tidak pernah bersatu dan saling menopang dengan hati. Mereka bersatu karena dunia. Bila urusannya dunia, maka akan mudah berpecah, berseteru, dan menghancurkan sesama. Jadi jangan takut dengan beragam kekuatan kebatilan.

Pelaku kebatilan hanya mengandalkan kekuatan dirinya. Hanya berani menunjukkan taringnya di perkampungannya. Berani bertarung bila terlindungi oleh benteng yang kokoh, amunisi sumber daya yang berlimpah dan kekuatan besar yang dianggap tak mungkin terkalahkan. Begitulah karakter kebatilan dalam berjuang. Pejuang kebatilan adalah selemah-lemahnya para pejuang.

Yang dicari pelaku kebatilan adalah perut, kesenangan, dan kehidupan. Jadi sangat mudah memunculkan rasa ketakutan. Para pelaku kebatilan sebenarnya para pengecut. Perutnya terusik akan lemah. Mereka tak tahu apa yang diperjuangkan. Mereka takut akan kematian. Inilah pangkal kelemahan.

Ketika Bani Nadir terlindungi dengan sangat kuat di benteng-benteng mereka. Allah menyisipkan rasa takut pada mereka akan kekalahan, kekurangan makan dan kematian. Akhirnya mereka lari melarikan dari benteng-benteng yang kokoh. Benteng-benteng Yahudi direbut setelah aliran sungai mereka dibendung. Mereka ketakutan haus dan lapar. Begitu mudah mereka menyerah.

Begitulah lemahnya kekuatan kebatilan. Maka yang dibutuhkan oleh kaum muslimin, menurut Sayid Qutb dalam tafsir Fizilalil Quran, untuk menegakkan kebenaran hanya mengokohkan ikatan hati saja. Dengan ikatan hati umat Islam maka kekuatan kebatilan akan lunglai tak berdaya.

Takdir kebatilan adalah kehancuran. Takdir kebenaran adalah kemenangan. Bila melihat kebatilan begitu kokoh dan pongah, itu bukan tanda kekuatan, tetapi menunggu takdir kehancurannya. Bila kebenaran terlihat lunglai, itu bukan kelemahan tetapi menunggu hadirnya para mujahid yang bertakwa dan terikat dalam satu hati yang kuat dan ikhlas.

Kebatilan butuh sumber daya dan kekuatan yang besar untuk kemunculannya, karena dia membutuhkan tipuan untuk mengelabuhi hati, jiwa dan pemikiran manusia. Dia butuh sarana untuk mengobarkan hawa nafsu. Kebenaran tak butuh kekuatan besar untuk memenangkannya karena cukup menyadarkan nurani yang telah bersemayam dalam jiwa manusia. Andai melihat kekuatan dahsyat kebatilan, jangan gentar untuk menghadapinya, bukan karena mereka kuat tetapi mereka sedang menutupi kelemahannya.

Bila kebatilan ditopang oleh naga dan adi daya, jangan gentar untuk menghadapinya. Bila kebatilan ditopang oleh penguasa dan prajurit yang banyak, jangan gentar untuk menghadapinya. Karena kekuatan mereka sengaja dikerahkan agar hancur bersama prilaku kebatilan mereka. Seperti Qarun yang ditenggelamkan bersama hartanya. Seperti Firaun yang dihancurkan bersama prajurit dan panji kekuasaannya. Seperti Yahudi yang lari terbirit-birit meninggalkan benteng khaibar dan sumber daya ekonominya.

Allah telah berjanji bahwa kekuatan 1 orang yang sabar dapat mengalahkan 10 orang pembela kebatilan. Dalam sejarah, tiga orang yang sabar mampu menghancurkan satu batalion para pembela kebatilan. Seperti Palestina yang menghadapi rudal tercanggih Yahudi hanya dengan mainan anak layang-layang saja.

Hidup kebenaran di dalam hatimu maka kebenaran akan hadir dalam peradaban manusia. Begitulah pesan seorang ulama kepada para pembela kebenaran.

Komentar

Tulis Komentar