Binasa Karena Kebaikan?

Oleh: Nasruloh Baksolahar

Khawatir efek buruk dari kemungkaran adalah hal biasa, namun bagaimana bila khawatir dengan kebaikannya? Ini lompatan dalam beramal. Mereka tidak merasa aman dengan kebaikan. Karena setiap kebaikan masih harus ditelisik, apakah layak disebut kebaikan?

Orang yang binasa adalah mereka yang berbangga dengan keburukannya. Orang yang tertipu adalah mereka yang bangga dengan kebaikannya. Orang yang selamat adalah mereka yang khawatir dengan kebaikannya.

Huzaifah Al Mar’asy berkata, “Wahai saudaraku, sesungguhnya aku takut kalau sebagian kebaikan kita lebih mencelakai kita di Hari Kiamat daripada keburukan kita.” Keburukan kadang membawa pada istighfar. Namun kebaikan kadang membawa pada perasaan paling mulia dan bersih. Mana yang lebih baik?

Abu Mu’awiyah Al Aswad dia memiliki karomah mampu memanah musuh dengan tepat walaupun dilakukan sambil mata tertutup. Bidikannya tak pernah meleset. Saat tua, matanya buta, namun bila membuka mushaf al Qur’an matanya bisa melihat kembali. Kebutaannya hilang bila membuka al Qur’an. Bagaimana dia memandang orang lain? Orang lain dianggap selalu lebih baik darinya.

Beliau pernah berkata, “Saudaraku lebih baik dariku.” Sahabatnya bertanya, “Mengapa bisa demikian?” Dia menjawab, “Semuanya melihat keutamaanku atas dirinya, sedangkan orang yang menganggapku lebih utama dari dirinya, berarti dia lebih baik dariku.” Mereka yang menggagap tak berguna kebaikannya ternyata derajatnya lebih tinggi dibandingkan orang yang merasa baik atas perbuatan baiknya.

Huzaifah Al Mar’asyi berkata, “Jika engkau tidak takut Allah mengazabmu karena amal terbaikmu, maka kau binasa.” Tak pernah merasa baik atas kebaikannya. Selalu gelisah atas kebaikannya. Bukankah kita beristighfar setelah shalat? Beristighfar atas kebaikan lebih utama daripada beristighfar atas keburukan.

Al Ghazali dalam Ihya Ulumudin memiliki pembahasan khusus tentang menangisnya para Arifin di akhir hayatnya. Mereka tak pernah membanggakan amal kebaikannya. Mereka justru menangisi kebaikannya. Karena di Surga pun, para ahli Surga menangisi amalnya karena bila beramal lebih baik lagi pastilah mereka akan mendapatkan tingkatkan surga yang lebih tinggi lagi.

Komentar

Tulis Komentar