Candu

Oleh: Nasruloh Baksolahar

Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya api sejarah, menulis strategi Eropa memenangkan pertempuran di Australia. Suku Aborigin disajikan minuman keras dan narkoba. Dan terus disuplai minuman keras narkoba. Hingga mereka sangat ketergantungan. Disaat itulah mereka di musnahkan.

Suku Indian pun, dicekoki minuman keras dan narkoba. Ketika ketergantungannya tinggi, mereka mengejar yang memabukkan dan tak peduli dengan kondisi negrinya. Suku Indian pun hampir musnah. Eropa ingin menghancurkan Cina pun dengan perang candu.

Mabuk-mabuk bukan budaya Nusantara. Saya baca di buku sejarah, untuk mengalahkan bangsa Indonesia, Belanda menanamkan budaya mabuk-mabukan ke sebuah wilayah atau golongan ningrat. Bila budaya ini sudah mengakar di sebuah wilayah, maka perlawanan terhadap Belanda pun akan melemah.

Apa candu saat ini? Bisa jadi hidup yang serba menyenangkan dan serba enak adalah candu. Bisa jadi hutang yang kelewatan batas adalah candu. Begitulah cara mengekang agar jiwa melemah.

Menurut Imam Al Ghazali, hidup yang serba kenyang dan berlimpah kesenangan akan menghancurkan jiwa pejuang. Obsesinya serba mudah dan enak. Tak ingin berkeringat. Tak ingin menerjang badai. Pesan Abu Bakar sebelum wafat, “Jadilah penguasa dunia tapi ambillah untuk keperluan pribadi seperlunya saja.”

Kemewahan adalah candu. Kemewahan adalah perusak. Adakah para Sahabat yang hidup mewah? Kekayaan mereka berlimpah. Tetapi hidupnya dibatasi dengan karakter wara. Adakah Khalifatur Rasyidin yang hidup dalam kemewahan? Padahal kekuasaan dunia dalam genggaman?

Sebuah negri akan dihancurkan Allah, manakala yang berharta berbangga dan kikir terhadap hartanya. Penguasanya zalim dan rakyatnya tak melawan kezaliman. Mereka yang melihat kezaliman namun tidak melawan. Menurut Imam Al Ghazali, orang ini akan dituntut oleh orang yang terzalimi. Kemewahan harta membuat hancurnya bangsa dan beberapa negara.

Kemewahan takkan bisa membangun sesuatu, karena orientasinya adalah konsumtif. Kecanduan terhadap yang merusak, membuat takkan ada kebaikan yang bisa dimunculkan. Maka wajar bila akhirnya dihancurkan Allah.

Dihancurkan karena tak ada lagi kebaikan yang bisa dimunculkan.

Komentar

Tulis Komentar