Lapar Sebuah Kurikulum

Oleh: Nasruloh Baksolahar

Mendidik nafsu, didiklah perut dengan mengelola lapar. Mengelola makanan yang masuk ke perut. Mengelola berapa suap yang masuk ke perut. Mengelola kapan makan. Mengelola halalnya makanan dan kehalalan uang untuk membeli makanan tersebut.

Perut itu bisa meredam nafsu. Perut itu bisa menjadi bara api bagi nafsu. Nabi Yusuf ditanya, “Mengapa engkau lapar sedangkan di tanganmu tersimpan semua kekayaan bumi?” Yusuf menjawab, “Kenyang akan membuat lupa kepada orang yang lapar.” Lapar menciptakan karakter kasih sayang. Kenyang menciptakan karakter kikir.

Menurut Al Ghazali, “Apabila binatang kenyang, maka ia akan kuat berlari. Bila lapar maka akan mudah dikuasai.” Bila ingin menguasai nafsu, maka perlemahlah nafsu dengan lapar. Dzun Nun berkata, “Tidaklah aku kenyang melainkan aku bermaksiat atau berkehendak berbuat maksiat.”

Siti Aisyah berkata, “Bid’ah pertama setelah Rasulullah saw wafat adalah kondisi perut yang kenyang. Kenyang membuat jiwa tunduk pada dunia.” Sahal al-Tastari berkata, “Yang paling berbahaya bagi pencari akhirat adalah kenyang. Siapa yang melaparkan dirinya maka bisikan syetan akan terputus.”

Rasulullah saw bersabda, “Yang paling lama laparnya di akhirat adalah mereka yang paling kenyang di dunia. Bejana yang paling buruk adalah perut. Maka cukuplah beberapa suap kecil hanya untuk menegakkan tulang pungggungnya.”

Lapar bagi yang beriman bukanlah kelaparan karena tak memiliki harta. Mereka bisa kenyang, namun lapar merupakan kurikulum pendidikan bagi dirinya sendiri. Lapar untuk meningkatkan kualitas hati dan jiwa. Lapar untuk membersihkan jiwa dari dorongan nafsu dan menumpas bisikan setan.

Budaya lapar telah melahirkan generasi terbaik. Generasi yang menjadi guru peradaban dan keilmuan. Ternyata cukup mudah menaklukan hawa nafsu, bergelutlah dengan lapar. Jadikan lapar sebagai kurikulum pendidikan.

Komentar

Tulis Komentar