Puncak Ilmu

Oleh: Nasruloh Baksolahar

Puncak ilmu, bukan menjadi gudang pengetahuan, gudang wawasan, gudang pemikiran. Bukan pula menjadi pribadi yang membuat orang selalu bertanya padanya, bukan menjadi tempat meminta nasihat, motivasi, solusi dan inspirasi. Bukan untuk itu kita berilmu.

Menjadi orang berilmu, bukan untuk menjadi orang yang mulia dan dimuliakan. Bukan untuk menjadi orang terhormat dengan embel-embel jabatan dan posisi. Bukan agar kekayaan dan dunia dalam genggaman. Ilmu bukan untuk membuka pintu-pintu dunia.

Bila tujuan ilmu soal kehebatan diri, maka ilmu akan menjadi sumber kerusakan yang dahsyat. Ilmu akan menjadi ego.

Tidak semua bisa dipecahkan oleh ilmu. Ada ruang, dimana ilmu tak bisa menjangkaunya. Ada ruang dimana Ilmu berhenti di sebuah titik karena kebodohan ilmu terhadap hal tersebut. Ilmu yang luar biasa pun ada keterbatasannya. Ilmu yang paling mumpuni pun masih diliputi kebodohan yang nyata.

Adakah ilmu yang menjangkau masa depan? Adakah ilmu yang bisa menjangkau ruh? Adakah ilmu yang bisa menjangkau besitan hati dan lintasan pikiran?

Saya pernah belajar ilmu manajemen Inventory, Mengapa ada stock dan gudang? Karena manusia tidak bisa tepat memprediksi kebutuhan manusia di hari esok, inilah salah satu keterbatasan ilmu. Seorang auditor yang yang hebat pun tak bisa memprediksi besitan kejahatan yang berada di dalam dada manusia. Itulah mengapa kita diminta wirid surat Al Falaq dan Annas.

Puncak ilmu dan pengalaman adalah Tauhid, lailahaillallah, tiada tuhan selain Allah. Puncak ilmu adalah lahaula walaquwata ilabilahi aliyulazim, tiada daya upaya kecuali seijin Allah. Bila ilmu belum menemukan esensi keduanya, maka hawa nafsu masih menyelimuti ilmu. Puncak segala ilmu adalah mengenal ke Maha Agungan Allah.

Puncak dari ilmu terangkum dalam asmaulhusna Allah.

Komentar

Tulis Komentar